Sepakbola merupakan olahraga yang menjunjung tinggi nilai sportivitas. Karena itu, setiap pemain atau tim diwajibkan taat dengan aturan-aturan yang berlaku dalam setiap pertandingan.
Namun kadang terdapat beberapa pihak yang ingin merusak nilai sportivitas dari Sepakbola demi keuntungan mereka dengan mengatur alur atau hasil dari sebuah atau beberapa pertandingan.

Beberapa waktu lalu, Spanyol dihebohkan dengan dugaan pengaturan skor yang terjadi di divisi kedua (Segunda Division) dan beberapa pertandingan divisi teratas (La Liga), yang mengingatkan kembali soal sejumlah kasus lainnya yang pernah terjadi dalam sepakbola.

Meskipun masuk dalam kategori tindakan kriminal, pengaturan skor masih terjadi dalam sejarah Sepakbola dunia, termasuk di Indonesia. Berikut adalah tiga peristiwa pengaturan skor dalam dunia sepakbola yang paling menghebohkan.

Tim nasional Jerman Barat Vs Tim nasional Austria (1982)
Umumnya pertandingan terakhir dalam fase grup sebuah turnamen diselenggarakan secara bersamaan, tetapi hal ini belum terjadi pada Piala Dunia 1982 yang berlangsung di Spanyol. Pertandingan yang memperoleh sorotan saat itu adalah pertandingan antara Tim nasional Jerman Barat dan Tim nasional Austria.

Saat itu Tim nasional Jerman Barat dan Tim nasional Austria berhadapan dalam pertandingan terakhir dan memahami bahwa kemenangan 1-0 untuk Tim nasional Jerman Barat akan membuat kedua kesebelasan lolos dan menyebabkan Aljazair tersingkir.

Kurang dari sepuluh menit pada babak pertama, Tim nasional Jerman Barat langsung memperoleh keunggulan yang akan membuat mereka dan Tim nasional Austria lolos. Pada akhirnya kedua kesebelasan hanya memberikan umpan satu sama lain hingga akhir pertandingan. Momen ini disebut “pertandingan Memalukan di Gijon” dan menyebabkan FIFA membuat peraturan baru dengan menyelenggarakan setiap pertandingan terakhir fase grup pada waktu bersamaan.

Calciopoli (2006)
Salah satu skandal terbesar dalam sejarah Sepakbola Italia, yakni Calciopoli terjadi pada 2006 dan juga menghebohkan jagat Sepakbola. Otoritas Italia menyadap beberapa percakapan di telepon dan mengetahui adanya pihak manajemen klub yang terlibat dengan asosiasi wasit untuk memilih wasit yang dapat memberikan keuntungan kepada klub mereka masing-masing.

Klub-klub seperti AC Milan, Fiorentina, Lazio, dan Reggina memperoleh sanksi pengurangan poin dan larangan tampil dalam kompetisi Eropa. Juventus menjadi klub yang memperoleh sanksi terberat dengan pencabutan dua gelar juara Serie A yang diberikan kepada Inter Milan, dan kemudian diturunkan ke divisi kedua (Serie B).

Pesta Gol Liga Nigeria (2013)
Beralih ke benua Afrika, tepatnya ke Nigeria, skandal pengaturan skor yang terjadi di divisi kedua negara tersebut mengejutkan dunia pada 2013 karena dua kejadian yang mengejutkan dalam upaya tim yang terlibat untuk masuk ke divisi teratas.

Plateau United Feeders dan Police Machine memperebutkan kursi terakhir untuk promosi ke divisi teratas. Feeders bertanding melawan Akurba dan unggul 7-0 pada babak pertama, sementara Police unggul 6-0 atas Babayaro FC.

Memasuki babak kedua, Plateau United Feeders memperoleh tambahan 72 gol dan meraih kemenangan 79-0 atas Akurba, membuat mereka memperoleh tiket promosi akibat Police Machine yang “hanya” memperoleh kemenangan 67-0 atas Babayaro FC. Keempat tim yang terlibat memperoleh larangan untuk beroperasi selama sepuluh tahun.